Summing up my 3 months survival in the Netherlands

Hoi allemaal. Nu ben ik in Wageningen!

Halo semuanya. Aku tinggal di Wageningen sekarang. Kira-kira seperti itu kalo diterjemahin ke bahasa Indonesia.

13 Agustus 2019 lalu aku berangkat ke Belanda buat kuliah di Wageningen UR. Kampusnya terletak di kota kecil bernama Wageningen, yang terkenal sebagai city of life sciences. Karena kotanya kecil, lebih dari setengah penduduknya adalah pendatang internasional (mahasiswa, researcher, etc). Oya, hamdalah aku sudah melewati 1 periode perkuliahan. Masih ada 5 periode lagi di tahun ajaran ini jadi masih panjang perjalanan. Tapi jangan salah, sesibuk-sibuknya aku sama pelajaran, aku masih nyempetin waktu buat jalan2 tiap weekend pake weekend vrij, main sama AID buddyku sebulan sekali, dan join beberapa kegiatan (terutama excursion) dari organisasi kampus kayak ESN dan ISOW. Sudah keinginan aja dari awal datang kalau aku harus bisa berinteraksi dengan teman-teman di sini, siapa tau koneksi ini bermanfaat suatu hari. Jadi kalau ke Milan gitu bisa call temen asal Milan buat ngajakin keliling Milan. wkwk. Satu lagi, aku juga ikut kursus bahasa belanda gratis dari kampus; Social Dutch Class. For me Dutch seems more challenging than English now as everyone can already speak English. Dan ternyata memang susah belajar bahasa Belanda, ribet bolak-balik subject verbnya. Tapi tetep lebih susah course research method for environmental sciences. krik.

Susah gak kuliah di sini? Karena aku gak sepintar alm. BJ Habibie, aku bilang lumayan susah. Tapi nothing is impossible. Semuanya pasti (harus) (di)bisa(in), karena kalau engga, gabisa lulus. Namanya hidup ya, setiap detik adalah perjuangan, yang harus dinikmati. Karna kalau gak dinikmati, bisa stres juga. Jadi inget dulu pas lulus SMA, udah nganggep kuliah tuh santai lah, eh gak juga; malah ada skripsi. Terus mikir ngerjain skripsi kayak mau mati (lebay); pas udah wisuda, ternyata kerja di pemerintahan juga sering bikin aku lembur. Terus dapet LoA dan lulus LPDP kan, kirain udah gitu yang susah cuma PK aja, ternyata kuliahnya susah anjir. wkwk. Karena itulah aku (harus) belajar setiap hari. Aku pernah baca di blog siapa gitu ya yang bilang kuliah di WUR gabisa SKS (Sistem Kebut Semalam) kalau mau lulus. Jadi setiap hari aku harus baca bahan atau review materi pelajaran. Selain belajar dan tugas mandiri (seringnya bikin essay), kuliah di WUR ini selalu ada group work alias kerja kelompok (yang seringnya bikin essay juga). Padat kan jadwalnya. hahaha.

Terus orang Belanda gimana? Nah, ini dia. Jadi aku kan pas orientasi kampus (AID) dibilangin sama orang2 pengisi AID dari academics, dan beberapa buku yang aku baca juga bilang kalau orang belanda itu to the point. In fact, they pride themselves in having and expressing an opinion. Mereka akan bilang apapun langsung ke kamu, walaupun itu buruk. Menurutku kayaknya bukan orang belanda doang yang kayak gini; semua orang barat mungkin kayak gini. Kalau orang timur kan ada rasa gak enakan kan ya kalau mau bilang “your tree diagram is shallow and silly“. (wkwk ini yang dibilang dosenku (Canadian) KE AKU pas aku minta pendapatnya tentang research proposalku). Reaksiku gimana? Berusaha tenang dan tetap ceria menerima kenyataan. Walaupun agak kaget juga dalem hati. Tapi dia punya poin yang tepat buat disampein ke aku; yaitu aku harus bisa bikin tree diagram yang benar. Setelah aku perbaikin diagram dan research proposalku, akhirnya aku dapat nilai yang lumayan oke sampe dia bilang “Your research proposal is the very definition of mercenary excellence.” haha. Lalu, di group work, aku juga sering satu kelompok sama orang Belanda dan mereka baik-baik aja ya, so far aku gak ngerasa mereka frontal saat gak setuju dengan pekerjaan anggota lain. Maksudku gak harus orang belanda, international students dari negara lain juga memang terang-terangan aja berpendapat. Jangan baper.

Hal lain yang cukup mengagetkan buat aku di sini adalah gaya hidup orang-orang di sini yang sustainable. Mereka sangat concern dengan lingkungan. Mereka mikirin gimana supaya footprint atau carbon emission dari kegiatan mereka tuh bisa seminimal mungkin. Contoh yang sederhana, mereka selalu bawa tas belanja dari rumah kalau ke pasar; kalau gak bawa, digotong pake tangan lalu ditaro langsung di keranjang sepeda. Di sini sistem waste separationnya sudah sangat baik. Kalau mau buang sampah, harus dipilahin dulu sampahnya mana yang organik, kertas, plastik, metal, gelas, elektronik, cartridge; semuanya punya bak sampah tersendiri. Hal lainnya, misal, ada temenku yang kalau secara materi kayaknya mampu-mampu aja kalau mau beli tiket pesawat, tapi dia lebih memilih naik bus ke London dari Belanda karena emisi GHG pesawat tuh gede banget. Terus di sini juga ada kegiatan penampungan makanan tidak habis (food sharing). Jadi di wageningen ini ada banyak komunitas, salah satunya Thuis Wageningen. Thuis ini banyak mengadakan kegiatan sosial dan penggiat kegiatan ramah lingkungan, salah satunya food sharing. Jadi di facebook group, setiap orang bisa broadcast post kalau mau sharing makanan, dan makanannya bisa diambil di Thuis ini. Lalu, soal berkendara. Belanda terkenal sebagai negara yang bike friendly. Gimana engga, kamu akan selalu lihat jalur sepeda dimana-mana. Pengendara kendaraan bermotor juga diharuskan melindungi pengendara sepeda dalam bentuk misalnya; mempersilakan si pengendara sepeda lewat duluan pas mobil juga mau lewat, dll.

Culture shocks lainnya apalagi? Party! Di sini party adalah hal yang biasa, termasuk bagi mahasiswa. Jadi siap-siap untuk selalu diajak party jumat malam. lol. Party juga identik dengan bier. But you can always say no if you don’t want to.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s