Let me celebrate you

Meskipun sudah mendapat ‘tempat’ di Belanda, jujur saya masih setia menanti pengumuman dari sebuah universitas di Australia. Sedikit flashback, selama 2018 saya melamar beberapa universitas seperti Durham University, Birmingham University, Strathclyde University, Wageningen University, dan Australian National University. Sebenernya saya beberapa kali melirik yang lain seperti York University, program MESPOM, Swedish Scholarship, dll tapi aplikasi tidak selesai sehingga yang beneran submit ya cuma 5 itu. Saya juga daftar AAS dan Chevening tapi tak lulus. Oya, sebenernya saya juga menargetkan LSE. Tapi sayang, IPK saya belum mencukupi jadi yaaaaa LSE ini sejujurnya menjadi mimpi baru saya yang lain, mungkin untuk S3? Saya juga mendaftar beasiswa Bappenas tapi gagal di TPA. Jujur, saya sudah pesimis beasiswa Bappenas ini karena soal-soal TPAnya banyak amat dan susyeh bok. Otak saya sudah overload di aula saat ngerjain soalnya. Hihi. Balik lagi, saya mendaftar untuk jurusan yang sama di kelima universitas, yaitu environmental economics. Dari kelima universitas tersebut, sampai akhir tahun 2018, yang mengumumkan hasilnya hanya Wageningen, Strathclyde, dan Birmingham. Wageningen dan Strathclyde alhamdulillah menerima saya dengan LoA unconditional. Birmingham menolak saya dong. Sedih.. Sedangkan Durham, saya gak tau kenapa tapi portal webnya sering tidak beres padahal saya sudah sering email ke adminnya. Nah, jadilah saya tinggal menunggu ANU.

Email terakhir dari ANU menyebutkan bahwa saya harus bersabar karena hasil baru akan diumumkan April 2019. Dituliskan sebabnya adalah karena banyak yang daftar ke ANU dan ANU ingin memperbaharui kriteria seleksinya. Saya pun bersabar. Dan sebenernya saya tau alasan kenapa saya masih menunggu ANU walaupun di form LPDP dan SK kantor sudah ditulis Wageningen. Karena Australia seperti cinta pertama saya. Saya ingat pertama kali menginjakkan kaki di Melbourne Australia tahun 2013 untuk konferensi ilmiah dan saya takjub sambil bermimpi untuk kembali ke sana untuk kuliah. Akhirnya permintaan saya dikabulkan. Tahun 2017 saya ke Canberra namun masih bukan untuk mengambil master melainkan untuk belajar dari Australia Bureau of Statistics (ABS). Perjalanan selama di Canberra semakin memantapkan hati saya untuk melanjutkan S2 ke sini bagaimanapun caranya. Sampai akhirnya saya apply AAS dan berakhir gagal di tahap pertama terus nangis gitu sepanjang hari. Hahaha. Lagipula, kalo saya melanjutkan kuliah di Australia, jarak lebih dekat dengan Indonesia. Dampaknya, ongkos pesawat yang dibutuhkan lebih murah. Dan akan sangat mungkin orangtua saya datang menjenguk. Yang terpenting, saya masih bisa pulang dengan waktu tempuh yang tidak selama yang dibutuhkan dari Jakarta-Schipol.

Balik ke realita. Saya daftar LPDP saat LoA di tangan ada 2, Wageningen dan Strathclyde. Memilih di antara dua pilihan ini gak sulit karena pastinya saya akan memilih Wageningen University and Research (WUR). WUR ini terbaik di kelasnya. Kelas di sini maksudnya kelas lingkungan. Terakhir, WUR dapet peringkat 7 terbaik dunia (versi QS) untuk universitas bidang pertanian dan lingkungan. Sayangnya, saat itu ANU belum ngasih kejelasan. Karena kebijakan LPDP 2018 adalah tidak diperbolehkan pindah universitas apalagi jurusan dari pilihan di awal ngisi formulir, saya pun memilih WUR dan secara sadar gak mau pindah-pindah ke lain lagi. Lagian mau kemana lagi sih. Secara, WUR tuh udah pilihan yang paling baiqlah waktu itu. wkwk. Sebenernya mau ngisi ANU tapi saya masih belum yaqin bisa tembus ke sana. ANU itu universitas terbaik di Australia dan 25 besar di dunia. Suatu keajaiban kalau saya bisa masuk. Tapi anehnya, saya masih ngarep gitu bisa lulus, guys. There must be something….

Akhir maret, saya masih inget bahwa sebentar lagi ANU akan kirim email; Either email berita kegagalan atau email berita keberhasilan. Udah tanggal 1 April, belum ada juga email yang masuk dari ANU. Sampai akhirnya hari ini tanggal 4 April saat saya sedang perjalanan dinas di Bali, email dari Crawford School of Public Policy, the Australian National University datang.

Alhamdulillah ya Allah… Saya diberi kebahagiaan walaupun hanya sesaat karena sudah tidak mungkin pindah universitas lagi. Sebenernya saya denger-denger perpindahan universitas ini sifatnya gak kaku. Soalnya banyak awardee S3 yang pindah universitas karena alasan yang beragam. Misalnya, ga ada lagi spv di unversitas awal yang tertarik untuk supervise research si calon mahasiswa S3 tadi, atau prodinya malah tutup, atau pindahnya sama-sama di universitas amerika atau malah pindah ke universitas amerika (karena masuk US uni itu sulit bro, butuh GRE dll). Ada lagi alasan lain, yaa mungkin aja tuition fee maupun living allowance di universitas yang kedua ini lebih rendah. Sayangnya saya gak memenuhi kriteria tersebut satu pun. Jadi, saya harus bersyukur atas pilihan saya di Wageningen University. Semoga ini yang terbaik. Mungkin Allah SWT menjatahkan ANU untuk S3 saya, atau mungkin LSE? 😁

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s