1st attempt in applying scholarship – failed! (Australia Awards Scholarship)

Setelah 4 tahun mengabdi sebagai ASN akhirnya tiba juga waktu dimana saya boleh “meminta” copy of transcripts and degree certificate dari kampus untuk bisa sekolah lagi. 1 November 2017 bisa dibilang jadi hari bersejarah karena pada tanggal tersebut saya buru2 bikin surat permintaan yang ditandatangani direktur saya supaya bisa ngambil copy of those documents di kampus. Ya. Sudah sejak lama saya bercita-cita sekolah di luar negeri. Dan Australia Awards Scholarsip ini menjadi kesempatan pertama saya. Penerimaan aplikasi AAS buka Februari 2018 dan tutup pada akhir April 2018. Sebagai salah satu syarat aplikasi, saya ikut test TOEFL ITP di ILP Cikini pada akhir Januari 2018.

Hari pertama pembukaan AAS, saya langsung bikin akun! Berusaha isi2 form yang bisa saya isi sambil ngecek dokumen apalagi yang perlu saya siapkan. Dan ya.. ternyata memang masih banyak dokumen yang perlu saya lengkapi selain certified copy ijazah, transkrip dan toefl. Masih ada birth certificate yang ternyata mesti diterjemahkan di sworn translator, 2 buah surat rekomendasi dengan format dari AAS, Curriculum Vitae, dan sertifikat2 keahlian sebagai dokumen tambahan.

Setelah mencari2, akhirnya nemu sworn translator terdaftar di Oz Embassy. Akhirnya kelar juga nerjemahin, lalu upload. Yang paling saya inget saat apply AAS ini adalah saat memutuskan minta rekomendasi dari deputi. Banyak teman saya yang menyayangkan kenapa gak langsung minta rekomendasi dari kepala BPS RI sekalian karena pasti akan lebih mudah. Dan saya pun menyesal namun apa boleh buat surat sudah masuk ke ruang deputi. Bayangkan, saya sampe ngajak anak saya ke ruang sekertaris deputi malem-malem demi tandatangan beliau. Tapi demi beasiswa, apapun akan saya usahakan. Namanya ikhtiar ya gak.

Long story short, berkas udah lengkap, essays pun sudah selesai ditulis. Akhirnya saya klik submit! Karena aplikasi AAS ini masih boleh di withdraw setelah submit, saya beberapa kali withdraw aplikasi karena masih merasa ada yang kurang. Ini tidak boleh dicontoh ya karena seharusnya submit ya pas semua sudah dipastikan dan dicek ricek benar.

Pengumuman Tahap I

Setelah menunggu kurang lebih 2 bulan, akhirnya email pun datang.

Yak. Saya gagal. Sedih? Hmmm bilang gak ya.. yang jelas saya sempet nangis pada hari email pengumuman itu dikirim. Saya bertanya-tanya kenapa saya gak lulus. Lalu saya sampai pada suatu kesimpulan bahwa: oh mungkin karena orang lain sudah pada punya IELTS jadi saya yang cuma bermodalkan TOEFL ITP harus tersingkir. Oh mungkin memang prioritas untuk daerah timur. Dan lain-lain. Pada akhirnya saya berusaha menerima kenyataan kalu saya memang belum layak menjadi AAS Awardee.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s